IWPG Bekerja Sama dengan Turki dan Belanda di CSW70 untuk Mendorong Perdamaian dan Keadilan bagi Perempuan
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks, peran perempuan dalam menciptakan perdamaian dan keadilan menjadi sangat penting. International Women’s Peace Group (IWPG) telah mempertegas komitmennya dalam upaya ini dengan berpartisipasi dalam Sidang ke-70 Komisi PBB tentang Status Perempuan (CSW70) pada 17 Maret 2026 di New York. Melalui dua acara signifikan, IWPG berkolaborasi dengan berbagai organisasi untuk memperkuat suara perempuan dalam konteks perdamaian.
Kolaborasi Strategis untuk Mendorong Kepemimpinan Perempuan
Pada pukul 10.30 pagi, IWPG mengadakan sebuah acara paralel di Church Center PBB (CCUN) yang diselenggarakan bersama International Network of Liberal Women (INLW) dan Turkish Green Crescent Society (TGCS). Acara ini berjudul “Perempuan sebagai Pemimpin Perdamaian: Ketahanan dan Transformasi dalam Konteks yang Terdampak Konflik.” Kerja sama ini mencerminkan komitmen bersama INLW, sebuah organisasi perempuan internasional yang berbasis di Belanda, dan TGCS, lembaga kesehatan masyarakat terkemuka di Turki, yang berfokus pada pemberdayaan perempuan dalam memimpin inisiatif perdamaian.
Perempuan Sebagai Agen Perubahan
Sekretaris Jenderal IWPG, Kyungnam Choi, menekankan dalam pidato utamanya bahwa perempuan tidak hanya berfungsi sebagai korban atau penerima manfaat dari perdamaian, tetapi juga sebagai agen utama yang memiliki kemampuan untuk memulihkan komunitas dan membangun kembali perdamaian. Ia menguraikan tiga syarat penting untuk mencapai perdamaian yang berkelanjutan:
- Pergeseran kesadaran diri perempuan
- Pembangunan jaringan solidaritas yang lebih luas
- Transformasi suara akar rumput menjadi kebijakan yang dapat diimplementasikan
“Kami tidak berbicara atas nama perempuan. Kami membantu perempuan berbicara atas nama diri mereka sendiri,” tegas Choi, menyoroti pentingnya memberdayakan perempuan untuk menyuarakan kebutuhan dan aspirasi mereka sendiri.
Data dan Temuan dari Lapangan
Selanjutnya, Kepala Perencanaan Strategis IWPG, Kyungmi Lee, mempresentasikan hasil wawancara mendalam yang dilakukan dengan perempuan dari lima negara yang terdampak konflik, termasuk Yaman, Ukraina, dan Myanmar. Penelitian ini mengungkapkan bahwa perempuan yang telah mendapatkan pendidikan perdamaian dari IWPG mampu mengatasi rasa putus asa akibat perang. Mereka tidak hanya mempraktikkan komunikasi non-kekerasan, tetapi juga berfungsi sebagai katalisator perdamaian di dalam komunitas, termasuk di kamp pengungsi.
Efek Riak dari Pendidikan Perdamaian
Hasil studi menunjukkan adanya efek riak, di mana transformasi individu dapat memicu pemulihan kepercayaan dan pengorganisasian kolektif dalam keluarga serta komunitas. Lee menekankan bahwa untuk mempertahankan kepemimpinan perdamaian perempuan yang berbasis di akar rumput, diperlukan koneksi dengan platform internasional dan pembentukan sistem dukungan kelembagaan yang kuat.
Dialog dan Tantangan yang Dihadapi
Setelah sesi pagi, acara tambahan diadakan di Ruang Konferensi 7 Markas Besar PBB. Acara ini diselenggarakan bersama Misi Tetap Turki di PBB, TGCS, IWPG, Slum Child Foundation, Drug Free America Foundation (DFAF), dan Recovery.com. Dengan tema “Tantangan Penentu Era Kita: Kecanduan Perilaku di Kalangan Perempuan dan Respons Kesehatan Masyarakat yang Sensitif terhadap Perempuan,” sesi ini juga dihadiri oleh Sekretaris Jenderal IWPG Choi, yang mengisahkan pengalaman seorang perempuan dari Sudan Selatan untuk menggambarkan dampak positif dari pendidikan perdamaian.
Peran Konektivitas dalam Pemulihan
“Ketika perempuan terisolasi, kecanduan semakin dalam. Tetapi ketika perempuan terhubung, pemulihan dimulai,” ungkap Choi, menyoroti pentingnya membangun jaringan dan solidaritas di antara perempuan untuk mempercepat proses pemulihan.
Solidaritas dan Komitmen Global
Seorang akademisi dari Boston yang hadir di acara tersebut menekankan betapa pentingnya solidaritas di antara organisasi perempuan internasional yang berkomitmen pada perdamaian. Peserta dari LSM internasional Kenya juga mengekspresikan rasa terima kasihnya atas ruang yang diberikan untuk perempuan aktif berpartisipasi dalam dialog, serta berharap akan ada perubahan positif ketika kelompok ini berkumpul kembali tahun depan.
Kerja Sama yang Meluas Melintasi Benua
Selama CSW70, IWPG berkolaborasi dengan Uni Afrika (AU), Pemerintah Turki, TGCS, INLW, dan berbagai organisasi internasional serta kelompok masyarakat sipil lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa jangkauan kolaboratif IWPG kini melintasi benua dan beragam sektor, memperkuat peran mereka dalam isu-isu mulai dari ketahanan di zona konflik hingga respons kesehatan masyarakat.
Peran IWPG dalam Komunitas Internasional
IWPG telah memperkuat posisinya sebagai mitra praktis dan kredibel di komunitas internasional. Organisasi ini terdaftar di Dewan Ekonomi dan Sosial PBB (ECOSOC) dan Kementerian Kesetaraan Gender dan Keluarga Republik Korea. Saat ini, IWPG mengoperasikan 115 cabang di 123 negara dan berkolaborasi dengan lebih dari 900 organisasi mitra di 68 negara, menunjukkan komitmen mereka terhadap masalah perdamaian dan keadilan perempuan di tingkat global.
Visi dan Misi IWPG
Dengan visi untuk mencapai perdamaian dunia yang berkelanjutan, IWPG secara aktif berupaya membangun jaringan perdamaian, menyebarkan budaya perdamaian, melaksanakan pendidikan perdamaian bagi perempuan, serta mendukung pengesahan Deklarasi Perdamaian dan Penghentian Perang (DPCW). Melalui upaya ini, IWPG berambisi untuk menciptakan dunia yang lebih aman dan adil bagi semua perempuan, serta mendorong mereka untuk mengambil peran aktif dalam proses perdamaian.